Tradisi Masyarakat Kalimantan Tengah
Suku Dayak memelihara ikatan yang kuat dengan dunia spiritual melalui rangkaian upacara adat daur hidup (life cycle) serta tradisi ketangkasan berburu yang diwariskan turun-temurun.

Upacara Tiwah
Tiwah adalah upacara kematian tingkat akhir pemeluk kepercayaan Kaharingan pada suku Dayak Ngaju. Ritual ini dilakukan untuk mengantarkan tulang-belulang orang yang telah meninggal dari kuburan sementara menuju Sandung (rumah kecil berukir di atas tiang kayu ulin) agar jiwanya mencapai Lewu Tatau (surga).
Kabupaten Gunung Mas, Kapuas, Katingan
Menyucikan jiwa orang yang telah mati agar terbebas dari sisa keduniawian dan dapat bersatu dengan Sang Pencipta di Lewu Tatau, sekaligus melepaskan keluarga dari masa berkabung.
"Simbol bakti anak/keluarga kepada leluhur, gotong royong (karena ritual ini membutuhkan biaya besar dan bantuan seluruh desa), serta kerukunan antar umat manusia."

Manyipet
Manyipet adalah tradisi atau keahlian berburu menggunakan Sipet (sumpit tradisional). Sipet terbuat dari kayu ulin bulat sepanjang 1.5 - 2.5 meter dengan lubang di tengahnya. Senjatanya berupa anak sumpit kecil (damek) yang ujungnya dibubuhi racun getah pohon ipuh.
Hampir seluruh wilayah pedalaman Kalimantan Tengah
Dahulu digunakan sebagai alat berburu hewan hutan serta senjata senyap dalam pertempuran. Saat ini dilestarikan sebagai cabang olahraga tradisional utama di festival budaya.
"Melambangkan keakuratan, ketenangan, fokus pikiran, kesabaran, serta kemandirian bertahan hidup selaras dengan alam hutan belantara."